Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Potensi Wilayah

Profil Umat Paroki Mlati

Paroki Mlati yang terdiri dari 14 wilayah pada saat ini telah menjadi Paroki yang mandiri, mampu untuk mengurusi dirinya sendiri. Ini berearti bahawa keterlibatan umat untuk kelangsungan Parokinya sudah cukup tinggi. Hal ini dapat ditelusuri melalui gambaran kehidupan umat di wilayah yang mandiri pula.

Perubahan Batas Paroki Mlati

Batas Paroki Mlati banyak mengalami perubahan pada tahun 1969, dengan berdirinya Paroki Banteng sebagian eilayah Desa Sariharjo diserahkan kepadanya, demikian pula daerah sekitar Seyegan, Druju misalnya, juga diserahkan kepada Paroki Medari. Bagian selatan, daerah Nandan diserahkan kepada Paroki Jetis. Penataan ini diprakarsai oleh Romo C.A.W. Rommens, SY. Batas Wilayah sekarang adalah sebagai berikut: Utara : L:ingkungan Nepas, Donoharjo Utara Timur: Wilayah Tambakrejo Selatan: Wilayah Kronggahan dan Cebongan Barat: Lingkungan Kulon Kali, Cebongan

Perkembangan Jumlah Umat

Pengalihan wilayah reksa Paroki ini akan memudahkan pelayanan umat yang semakin berkembang. Sepuluh tahun mendatang Gereja Mlati diperkirakan tidaka akan dapat menampung umatnyta lagi dalam perayaan hari Besar. Indikasinya adalah meningkatnya jumlah umat disetiap wilayah. Plaosan menduduki rangking I untuk jumlah umat yaitu 650 orang, dan yang paling sedikit umatnya adalah wil Jomblang dengan 120 umatntya. Pada tahun 2000, memperingati Tumbuk Ageng 64 tahun Gereja Mlati, jumlah umat mencapai angka seputar 6000 umat.

Bunga Rampai 14 Wilayah di Paroki Mlati
 

Berkisan, St Yohanes, 5 lingkungan

Ketua: YB Sutarman

Kreativitas umat disini pantas ditiru, salah satunya adalah cara mereka untuyk membangun Kapel. Biaya dipikul bersama dengan cara menabung bersama di sebuah bank, dengan demikian maka jumlah uang total akan bertambah dengan adanya bunga dari bank. Model gotong royong inilah yang kemudian berkembang menjadi "Tabungan Cinta Kasih".

Dalam Liturgi, kreativitas juga muncul dengan disusunnya buku panduan doa memule arwah sebagai alternatif ibadah sabda. Pilihan lagu yang ditawarkan pun bervariasi, dari type A sampai F, didalamnya termasuk model "mocopatan". Kreasi panduan doa ini ternyata diminati oleh wilayah lain untuk kepentingan yang sama.

Perayaan paskah dilaksanakan denga tradisi jawa "kenduri" yang melibatkan seluruh warga, termasuk non Katolik. Kerukunan dan kedamaian in imemungkinkan tumbuh suburnya sabda Tuhan, enam orang telah telrpanggil untuk menjadi Romo, Bruder, dan Suster. Keberadaa umat Katolik di perangkat Desa sungguh berdampak positif bagi umat sendiri, semisal untuk perijinan pembanguna Kapel yang dapat diselesaikan kurang dari satu tahun. Kapel ini dibangun pada tahun 1988 di atas tanah hibah dari Bp. A. Djaswadi, seluas 500 m2.

Cebongan, St. Yusup, 7 Lingkungan

Ketua: Ign. Suwandi

Umat disini memiliki Kapel yang dibangun 1988 sampai 1992, di atas tanah bekas pabrik dengan status Hak Guna Bangunan. Dinamika perekonomian wilayah ini sangat dipengaruhi dengan keberadaan pasar Cebongan yang sudah mirip dengan pasar-pasar di dalam kota.Dampak ekonomis di wilayah ini berpengaruh pada kehidupan menggereja yang antara lain dengan kebutuhan ibadat yang praktis, dekat dan mungkin cepat. Kapel akan menjadi sangat penting.

Donoharjo Utara, St. Petrus, 4 Lingkungan

Ketua: Bp. A. Mujiyo Utomo

Wilayah yang lezat, karena sering disingkat "Donut".Berbatasan langsung dengan Paroki Maria Assumpta, Pakem dan memiliki kapel di dusun Bunder. Keberadaan kapel ini sangat membantu karena jarak dengan Gereja Mlati begitu jauh, namun demikian panggilan di wilayah ini masih tumbuh dengan adanya seorang suster dan seorang seminaris yang muncul darinya.

Disini muncul karawitan untuk pengiring misa yang mengambil pelatih dari PML Yogyakarta, dana untuk gamelan dari hasil gotong royong mereka. Kapel disini sudah cukup tua dan perlu perbaikan disana sini, sekarang sedang diusahakan pembelian tanah seluas 900m2 dibelakangnya untuk perluasan dan sekaligus perbaikan kapel tersebut. Kapel yang sekarang berdiri dibangun pada tahun 1970-1974 diatas tanah hibah dari almarhum Bp. Ricardus Purnomo. Kegiatan Pertanian, perkebunan dan peternkan menjadi andalan pencaharian sebagian besar umat di wilayah ini selain sebagai PNS/Swasta

 

Donoharjo Selatan, St. Paulus, 4 Lingkungan

Ketua: Bp. FX. Budiharjo

Kapel wilayah ini terletak di susun Karanglo, di atas tanah hibah dari keluarga Ibu M.G. Sri Banon, didirikan pada tahun 1997. Hampir seluruh warga dusun ini adalah Katolik. Perumahan Taman griya Asri yang baru saja dibangun menambah jumlah umat di wilayah ini, dan bahkan dengan jumlah 30 KK mampu untuk membentuk lingkungan baru.

 

Dukuh, St. Venantius, 6 Lingkungan

Ketua: F.A. Hadbiyanto

Wilayah ini memiliki orang-orang potensial yang mau terlibat total dalam kegiatan gereja. Panggilan telah menjadikan 10 orang dari wilayah ini menjadi gembala, seorang diantaranya menjadi Bruder FIC dan telah berkarya selama10 tahun di Ghana sampai sekarang. Sebagian besar uamt telah berusia lanjut, sehingga keberadaan Kapel sangat membantu. Bp. Widarto telah merelakan tanahnya untuk Kapel yang dibangun dari 1984-1987.

Getas, St. Agustinus, 1 Lingkungan

Ketua: Bp. Gregorius Joko Santosa

Wilayah ini pernah mengalami masa vakum, sehingga lingkungan beserta pengurusnya belum terbentuk, namun demikian kegiatan liturgy dan pewartaan pada masa itu tetap terlaksana, hal ini karena banyak relawan untuk pelayanan gereja.

 

Jomblang, St. Stevanus, 1 Lingkungan

Ketua: Bp. Robertus Jono Wibowo

Wilayah ini memang hanya terdiri dari satu lingkungan, namun semangat menggereja sangat tinggi. Doa rosario dan pendalaman iman selalu dihadiri lebih dari 50 % umat.

Kronggahan, St. Markus, 5 Lingkungan

Ketua: Bp. Ign Jumeno K.S.

Wilayah ini memiliki kelompok koor yang andal. Keluarga Bp. A. Raharjo, merupakan satu keluarga yang sangat peduli pada masalah liturgi, termasuk mutu koor. 5 orang telah terpanggil untuk menjadi GembalaNya.

Andil wilayah ini cukup besar terhadap menyatunya dengan umat agama lain diseputar Gereja, ini ditunjukkan dengan hadirnya seluruh warga dusun Mlati Glondong pada acara Kenduri Perayaan Tumbuk Ageng yang baru lalu, yang diantaranya diisi dengan acara dialog. Peran Bp. Jumeno yang juga sebagai ketua RW, cukup stategis untuk menjembatani kesenjangan antara Gereja dengan warga dusun, sehingga memperoleh pemecahan yang baik.

Plaosan, St. Antonius, 5 Lingkungan

Ketua: Bp. Theodorus Supaham

Jumlah umat di wilayah ini adalah yang terbanyak di Paroki Mlati, disini, satu dusun merupakan satu lingkungan. Ada dilaksanakan ibadat harian di Kapel, maka tidak mengherankan jika 9 orang dirinya telah terpanggil untuk menjadi Romo dan Bruder. Kesenian yang menghiasinya adalah karawitan dan kroncong, dan biasa untuk mengiringi misa di Gereja.

 

Tambakrejo, St. Yakobus, 2 Lingkungan

Ketua: Bp. FX Supriyanto

Salawatan, kesenian tradisional yang aslinya bernuansa islami ini telah diadopsi oleh umat di wilayah ini menjadi bernuansa Kristiani. Tembang atau doa dilantunkan dengan bahasa Jawa dengan irama khasnya. Pelopornya adalah alm Bp. Harsudi, pemilik gamelan yang menjadi langganan dipinjam untuk mengiringi misa hari raya Natal dan Paskah di Gereja Mlati.

Panggilan di wilayah ini telah menjadikan 5 orang diantaranya menjadi suster frater dan seorang Romo, Romo Eustasius Wiyono yang telah meniggal dunia.

 

Duwet, St. Thomas, 3 Lingkungan

Ketua: Bp. Valentinus Sarkoro Dusun Duwet merupakan pijakan awal berdirinya Paroki Mlati. Dengan adanya orang-orang yang tangguh seperti Bp. Pawiro sentono dan Bp. Marto Pawiro (Jiman) pewartaan Injil dapat berbuah banyak.

Kapel perdana juga didirikan di dusun Duwet karena banyak umat Katolik yang bertempat tinggal di sekitarnya. Kapel pertama berdiri 8 Desember 1931 atas prakarsa Romo Frans Strater, SY. Tahun 1976 para suster SND mulai karyanya di St. Thomas dengan mengelola SMP St. Aloysius. Kegiatan lain yang bermula dari tempat ini antara lain adalah berdirinya SD Kanisius dan TK Indria sana I.

Tridadi, St. Ignatius, 5 Lingkungan

Ketua: Bp. Florentinus Sunaryono

Hampir seperti Cebongan , sebagian umat juga terbiasa dengan kesibukan pasar dengan adanya Pasar Denggung di sini, bahkan dengan kesibukan karyawan kantor pemda, dan kebisingan jalan negara. Diatara kebisingan tersebut, masih ada yang mampu mendengar panggilannya dan menanggapinya, sehingga 2 orang telah terpilih untuk menjadi imam.

 

t

Warak, St. Petrus, 6 Lingkungan

Ketua: Bp. Antonius Jumadi

Umat di sini giat beribadat, dengan adanya ibadat harian yang sudah sejak lama menjadi bagian hidup mereka. Lowongan dari Tuhan banyak mendapat tanggapan sehingga telah 15 orang yang diterima diladangnya menjadi bruder dan suster.

Kelompok Antareja (Anak Cinta Gereja) adalah kelompok anak pasca Komuni yang dipersiapkan untuk menerima sakramen penguatan, dengan adanya kelompok ini maka mempermudah katekis untuk mempersiapkannya.

Kerukunan antara Mudika dan Pemuda setempat perlu diacungi jempol. Manakala ada hari raya, mereka bergantian untuk menjaga keamanan dan parkir. Seperti Donoharjo Selatan, perkembangan disini juga pesat dengan adanya perumahan Sumber Adi Asri, yang merupakan lingkungan tersendiri.

Kapel lama 1978, yang berdiri diatas tanah hibah Bp. Petrus Hardjawijana sudah terlalu sempit untuk pertambahan ini, maka 1996 umat membangun lagi kapel yang baru, sedangkan kapel lama diperuntukkan gedung serbaguna. SMU Mikael yang berdiri 1984 juga dibangun diatas tanah hibah dari Bp. Petrus Hardjawijana, sekarang SMU ini sudah dilengkapi dengan asrama

 

Kembali ke St. Aloysius Gonzaga